5 Alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Raih Beasiswa ke Australia

ELED News – Australia menjadi destinasi pendidikan yang banyak dituju oleh para penuntut ilmu, terutama bagi alumnus bahasa Inggris. Tak hanya karena kedekatan geografis, kualitas pendidikan di Australia menjadi daya tarik tersendiri. Selain self funding, jalur beasiswa menjadi jalan bagi mereka yang menginginkan studi di luar negeri. Lima alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM yang kali ini berhasil mendapatkan kesempatan menimba ilmu di universitas Australia dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan RI dan Australia Awards Indonesia (AAI) yaitu Ibrahim (angkatan 2009), Ria Arista Asih (angkatan 2007), Dwi Mawan Karifianto (angkatan 2001), Yunita Rahmasari (angkatan 2005), dan Nur Mafissamawati (angkatan 2010). Seperti apa prosesnya, berikut penuturan kelima alumnus soal studi mereka di negeri kangguru itu. Ibrahim dan Dwi Mawan Karifianto adalah peraih beasiswa LPDP yang kini sedang menjalani studi di Monash University Melbourne. Ibrahim yang akan meraih gelar Master of TESOL pada akhir Juni 2018 ini mengaku bahwa memilih studi di Monash karena menempati rangking 16 dunia di bidang pendidikan, juga karena mata kuliah yang ditawarkan sesuai minat kajian yang ingin ia dalami. Selain sisi akademik, Ibrahim mengaku tertarik dengan kehidupan di Melbourne. “Melbourne sampai saat ini masih dinobatkan sebagai livable city di Australia sehingga pada saat awal memilih Melbourne saya yakin akan betah selama menempuh studi di sini,” tutur pria asal Kutai Kartanegara itu. Sementara itu, Dwi Mawan Karifianto, yang telah dua semester menjalani studi di Master of Applied Linguistics mengaku senang dengan atmosfer akademik di universitasnya, terutama dengan metode group dan peer discussion, serta fasilitas perpustakaan yang kaya dengan jurnal internasional sangat mendorong mahasiswa belajar secara mandiri. “Studi di Monash sangat menantang namun menyenangkan. Menantang karena kami dituntut untuk menyelesaikan tugas kuliah dengan baik, menyenangkan karena bisa belajar dan berbagi ilmu dengan mahasiswa internasional dari berbagai negara,” papar ayah satu anak ini. Figur peraih beasiswa LPDP selanjutnya adalah Ria Arista Asih, mahasiswa PhD in Education di University of New South Wales (UNSW) Sydney. Ria menuturkan bahwa menjadi mahasiswa PhD di Australia memiliki kemudah dan kesulitan tersendiri. Baginya, menjadi mahasiswa PhD di luar negeri lebih mudah karena semua hal bisa diatur sendiri dan kajian keilmuan pun lebih fokus pada satu objekdibandingkan menjadi mahasiswa Master. “Akan tetatpi, menjadi mahasiswa PhD di sini menuntut independensi dan disiplin waktu tinggi. Jika tidak, apa yang kami kerjakan akan meleset jauh dari proposal sehingga dapat berimbas pada banyak hal,” aku Ria yang saat ini juga aktif sebagai pengajar TPA Khairu Ummah Sydney ini. Adapun alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM yang sukses menjadi penerima beasiswa AAI yaitu Yunita Rahmasari dan Nur Mafissamawati. Yunita, mahasiswa Master of Applied Linguistics di University of Melbourne ini merasa senang tinggal di Australia. Selain kehidupan akademik yang menantang, Yunita mengaku nyaman tinggal sebagai Muslim di Melbourne. “Melbourne sangat Muslim-friendly, banyak komunitas Muslim di sini sehingga mudah menjumpai toko bahan makanan halal pun restoran halal. Satu hal unik soal Australia, negara ini sangat multikultur, setiap pendatang bebas menunjukkan jati diri atau homeland atributnya. Padahal saat awal datang dulu saya sempat khawatir menjadi mahasiswi berjilbab besar, conservative look,” terang Yunita yang hobi membuat Bento ini. Sementara itu, Nur Mafissamawati yang akan bertolak pada awal Juni ini ke Flinders University Adelaide memberikan trik jitu menaklukkan beasiswa AAI. Baginya, seorang pencari beasiswa harus memiliki kepribadian yang baik, terutama kejujuran. “Tahap yang paling menentukan dalam meraih beasiswa AAI adalah pemberkasan. Dari 5300 pelamar, hanya 600 yang terpilih dan kemudian berkas tersebut dikonfirmasi ulang saat sesi wawancara. Untuk itu, jujur dalam menulis berkas itu penting. Selanjutnya, kuatkan doa serahkan semua hasil pada Allah,” jelas Mafis yang akan menempuh Master of TESOL itu. Dari kelima alumnus yang sukses meraih beasiswa bergengsi tersebut memiliki pola karir yang sama, yaitu setelah menyelesaikan studi sarjana di UMM, kelimanya terlibat aktif menjadi instruktur English for Specific Purposes (ESP) di Language Center UMM. (raf) Yunita Rahmasari berpose di salah satu gedung University of Melbourne Dwi Mawan Karifianto saat mengunjungi salah satu perpustakaan di Melbourne Ibrahim berpose di pantai Eagles Nest Melbourne Nur Mafissamawati saat Pre Departure Training beasiswa AAI Ria Arista di depan salah satu ikon Sydney, Harbour Bridge
Mendeley, Referencing Tool Cegah Plagiasi

ELED News – Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang seringnya menyita dana, pikiran, dan waktu. Untuk mengatasi hal tersebut, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris memberikan solusi kepada mahasiswa tingkat akhir dengan mengadakan seminar penulisan skripsi dan artikel ilmiah di Aula GKB 4 Lt. 9 (24/4). Salah satu materi yang dikupas dalam kesempatan tersebut adalah penggunaan Mendeley sebagai referencing tool. Mendeley digunakan para peneliti terutama karena fungsinya sebagai tempat penyimpanan data virtual, jejaring peneliti, dan pengelolaan referensi. Dengan demikian, peneliti dapat berbagi dan berkolaborasi dengan peneliti lain sehingga penelitian tak lagi menjadi kegiatan serius yang monoton. Selain itu, Mendeley memudahkan peneliti dalam mengelola referensi. Peneliti tak lagi kebingungan dalam mengorganisir kutipan secara manual. “Apapun yang penulis kutip akan secara otomatis muncul dalam referensi sehingga hal ini meminimalisir plagiarisme dan membantu penulisan referensi,” jelas Adityo, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris di hadapan mahasiswa angkatan 2014. Selain membahas pentingnya penggunaan Mendeley bagi penelitian, seminar tersebut juga memaparkan secara detil tentang sistematika penulisan skripsi. Bayu Hendro Wicaksono, Ketua Prodi yang sekaligus bertindak sebagai pemateri saat itu menjelaskan tentang berbagai metode yang bisa digunakan mahasiswa dalam penelitian. Selain metode, Bayu yang menyelesaikan PhD di Australia itu juga menyarankan mahasiswa tentang kedisiplinan dalam penulisan skripsi. “Masih ada beberapa mahasiswa tidak memerhatikan soal time management sehingga performa akademiknya terganggu,” ungkap Bayu. Di akhir acara, mahasiswa diberi penjelasan terkait cek plagiasi yang bisa dilakukan di Prodi dan juga dipertemukan dengan dosen pembimbing masing-masing sehingga dapat berkonsultasi seputar teknis pembimbingan. (raf) Penyampaian materi penulisan artikel ilmiah oleh Kaprodi, Bayu Hendro Wicaksono. Mahasiswa angkatan 2014 menyimak pemaparan materi penulisan skripsi dan artikel ilmiah.
Alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Raih Gelar Master di New Zealand

ELED News – Mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri merupakan satu dari banyak impian dari para penuntut ilmu. Termasuk di antara mahasiswa yang berhasil mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemetrian Keuangan Republik Indonesia adalah alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, Dwi Wahyuningtyas. Menggunakan beasiswa pemerintah, Tyas berkesempatan studi di Victoria University of Wellington. Belajar di luar negeri memiliki banyak kelebihan dan tantangan. Tyas, wisudawan terbaik UMM pada 2013, mengaku salah satu hal menyenangkan yaitu bisa belajar bahasa Inggris langsung dengan ahlinya, dosen yang ramah, terdapat banyak literatur penunjang keilmuan, memiliki banyak teman dari berbagai negara, dan juga menikmati alam New Zealand yang masih asli. Meski demikian, Tyas mengaku hal yang paling berat saat awal menempuh kuliah yaitu academic shock yang mana kebiasaan belajar di luar negeri yang seringnya dituntut untuk membaca banyak jurnal dan menulis essai berbeda dengan pengalamannya ketika menempuh kuliah sarjana dulu. Dalam program Master, Tyas menempuhnya selama 1,5 tahun dengan total 180 kredit. Selanjutnya, soal kehidupan di New Zealand. Selain alamnya yang asri, Wellington New Zealand ternyata dikenal sebagai salah satu daerah paling berangin dan rawan gempa bumi di dunia. Tak hanya itu, cuaca di Wellington juga sulit diprediksi. Adapun dalam bersosialisasi, Tyas yang hobi baca itu, harus menjalani kehidupan sebagai minoritas Muslim. “Saya juga harus memilah-milah mana yang haram dan mana yang halal untuk dikonsumsi. Karena mayoritas penduduknya non-Muslim, banyak makanan non-halal yang dijual bebas di supermarket dan menjadi menu restoran,” paparnya. Keinginan belajar di luar negeri telah jauh tertanam dalam benak Tyas sejak duduk di bangku kuliah di semester satu. Hal tersebut berawal dari cerita bapak ibu dosen pengampu mata kuliah semasa di perkuliahan. “Saya orangnya mudah kagum sama seseorang. Jadi ketika dosen-dosen saya bercerita tentang seluk beluk kuliah di LN, tidak ada kata lain yang menggambarkan perasan saya waktu itu selain, terobsesi dan terinspirasi,” ungkap Tyas, perempuan yang pernah memenangkan kontes Miss Progresio pada 2010 itu. Bagi yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri seperti dirinya, Tyas yang saat ini menjadi pengajar bahasa Inggris di UMM, memberikan beberapa tips. Di antaranya, selalu mencari informasi seputar beasiswa dan kuliah di luar negeri, baik dari website, teman atau dosen alumnus luar negeri. Selanjutnya, para pencari beasiswa disarankan untuk menguatkan tekad, sekali dua kali gagal merupakan hal biasa. Hal yang tak kalah penting lain adalah mempersiapkan berkas beasiswa jauh-jauh hari sebelum penutupan. (raf) Dwi Wahyuningtyas saat berpose menikmati salah satu keindahan alam New Zealand. Dwi Wahyuningtyas bersama awardee LPDP New Zealand.
Evaluasi Kurikulum Sesuai KPT, Prodi Bahasa Inggris UMM Targetkan Mahasiswa 2018/2019 Lulus 3,5 Tahun

ELED News – KPT merupakan Kurikulum Perguruan Tinggi yang sesuai dengan standar nasional Dikti yang mana capaian lulusannya akan menjadi alumnus yang memiliki kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan. Berkaitan dengan hal ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM merekonstruksi kurikulum yang telah ada agar sesuai dengan KPT standar Dikti. Kegiatan tersebut berlangsung di ruang sidang FKIP pada Rabu (28/3). Mengacu pada standar KPT, setiap prodi dibatasi minimal merancang rencana pembelajaran dengan 144 SKS atau sama dengan 45-50 mata kuliah untuk setiap angkatan. Bayu Hendro Wicakso, Ketua Prodi Bahasa Inggris menyampaikan bahwa KPT di Prodi ditujukan agar mahasiswa memilki keterampilan khusus di bidang bahasa Inggris dengan lebih matang. “Dalam kaitannya dengan evaluasi kurikulum ini, kami berusaha untuk merampingkan sajian mata kuliah tanpa mengurangi esensi konten pembelajaran yang ada di Pendidikan Bahasa Inggris,” jelasnya. Mengenai perlunya mengevaluasi kurikulum yang ada, Hartono, Ketua Prodi Pascasarjana Magister Bahasa Inggris, menganalisa keterkaitan capaian lulusan dengan tantangan program Pendidikan Profesi Guru (PPG). “Ke depan, sesuai kebijakan pemerintah, PPG tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa kependidikan saja tapi juga untuk lulusan dari program non kependidikan. Oleh karena itu, jika keterampilan khusus bahasa Inggris para alumnus tidak kuat, maka kita akan kalah bersaing,” terang dosen yang juga menjabat sebagai penasehat Language Center UMM itu. Dari hasil evaluasi kurikulum yang disepakati, ada beberapa perubahan mata kuliah dan penyajiannya di setiap semester. Adapun sajian mata kuliah dan SKS untuk mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris tahun akademik 2018/2019 adalah sejumlah 144 SKS dengan 49 mata kuliah. Dengan menggunakan kurikulum ini, mahasiswa Prodi Bahasa Inggris tahun akademik 2018/2019 diperhitungkan dapat menyelesaikan kuliah sarjana di UMM selama 3,5 tahun saja. (raf) Bayu Hendro Wicaksono memberi pengarahan terkait evaluasi kurikulum sesuai KPT.
Weekly Discussion Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Diskusi Ilmiah

ELED News – Sebagai institusi akademik, universitas menjadi wadah bagi para akademisi bertukar ide. Untuk itu, setiap akademisi dituntut untuk selalu memperbaharui informasi terkait keilmuan yang dimiliki. Bertempat di American Corner Gedung Perpustakaan Pusat Lt.3, Weekly Discussion yang diadakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UMM di setiap Senin hadir sebagai forum yang memfasilitasi kegiatan ilmiah tersebut. Teguh Hadi Saputro, dosen Prodi PBI lulusan Victoria University of Wellington New Zealand yang sekaligus inisiator kegiatan tersebut, menyatakan keinginannya untuk membangun atmosfer akademik di kalangan civitas akademika di Prodi PBI. “Ada banyak sekali jurnal dan topik bahasan di bidang bahasa yang layak untuk dikaji. Saya ingin dosen dan mahasiswa bisa saling bertukar pikiran terkait keilmuan yang digeluti,” terangnya. Dimulai sejak Mei 2015, hingga saat ini (26/3) weekly discussion telah menyelenggarakan diskusi selama 86 kali. Setiap pekannya, terdapat setidaknya dua penyaji yang memaparkan ide. Para penyaji biasanya mempresentasikan proposal atau hasil penelitiannya. Bahkan, penyaji bisa juga sekadar berbagi informasi dengan mengangkat satu topik untuk didiskusikan. Beberapa topik yang telah dibahas diantaranya English as International Language, Content and Language Integrated Learning, Task-based Lesson, dan Assessment. Adapun penyaji datang dari kalangan dosen, mahasiswa sarjana dan pascasarjana UMM maupun dari luar UMM. Mulyanti Suhartinah, salah satu alumnus UMM yang pernah menyajikan penelitiannya mengaku mendapatkan banyak masukan terkait metode penelitian. “Feedback dari audience membuat saya merefleksikan kelemahan dan kekuatan yang ada pada penelitian saya. Karena penelitian saya adalah penelitian payung, yang mana memiliki kesamaan topik dengan beberapa teman dan hanya berbeda subjek saja, sungguh sangat riskan jika tidak berhati-hati mencermatinya,” tandas perempuan yang kini mengajar di salah satu sekolah menengah di Sidoarjo itu. Ke depan, Teguh ingin agar lebih banyak lagi partisipasi dari civitas akademika Prodi PBI, sehingga diskusi bisa lebih bervariasi dan tajam. Selain itu, Teguh juga berharap mimpinya untuk menyelenggarkan workshop diskusi ilmiah bisa terwujud dalam waktu dekat. (raf) Teguh Hadi Saputro menjelaskan jalannya diskusi kepada peserta pada weekly discussion ke 46. Mulyanti Suhartinah dan Wira Higmawati sedang menyimak tanggapan penelitiannya dari peserta diskusi.
Mencari Model Pembelajaran Baru, Prodi Bahasa Inggris Hadirkan Professor dari University of Queensland Australia

ELED News – Penelitian tentang bagaimana mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing merupakan subjek bahasan yang selalu menarik bagi para peneliti bahasa. Kajian ini terkait erat dengan implementasi metode pengajaran bahasa Inggris di kelas. Hal inilah yang menjadi perhatian Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM yaitu dengan menghadirkan Michael Harrington, professor di bidang linguistik dari University of Queensland Australia sebagai dosen tamu pada Senin (26/3) di Basement Dome UMM. Menurut Michael, peran penggunaan bahasa pertama dalam pemerolehan bahasa kedua bagi pembelajar pemula menjadi faktor yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena pembelajar pemula perlu mengaitkan sistem bahasa pertama dalam sistem pada bahasa kedua. “Anda beruntung, sistem bahasa Indonesia memiliki kemiripan dengan bahasa Inggris. Bisa kita bayangkan mereka yang bahasa pertamanya bahasa Jepang, dimana verba kalimat ada di belakang. Untuk itu, peran bahasa pertama menjadi hal yang sulit dipisahkan dalam pemerolehan bahasa kedua,” papar Michael. Selanjutnya, Michael, professor lulusan salah satu universitas di California, juga mengkritisi pengajaran bahasa Inggris yang menggunakan metode “English Only Class”. Baginya, seorang pembelajar hanya akan menemui kesulitan jika aturan itu diterapkan dalam kelas. Ia pun menganalisa bahwa penerapan metode satu bahasa saja di kelas tidak efektif, karena pada kenyataannya siswa akan tetap menggunakan bahasa pertama sebagai bantuan. Untuk itu, Michael selalu menekankan bahwa bahasa pertama tidak seharusnya ditinggalkan dalam belajar bahasa kedua. Michael yang pada kesempatan itu dimoderatori oleh Dwi Poedjiastutie, PhD lulusan Curtin University Australia, juga menjelaskan pentingnya memperhatikan kondisi belajar siswa. “Bukti penelitian menyatakan bahwa dalam pembelajaran bahasa kedua, kondisi belajar memiliki dampak pada pemahaman bentuk dan makna kata selama proses penerjemahan berlangsung. Selain itu, pemahaman makna kata juga sangat bergantung pada memori ingatan siswa,” terangnya. Pada acara yang dihadiri oleh 300 mahasiswa itu, Bayu Hendro Wicaksono, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, memaparkan bahwa acara kuliah tamu tersebut didesain agar mahasiswa mendapatkan informasi baru yang relevan untuk penulisan skripsi ke depan. “Ilmu linguistik yang disampaikan pembicara dari UQ ini akan sangat bermanfaat bagi Anda dalam melakukan penelitian. Untuk itu, topik yang dibahas perlu ditindak lanjuti dengan serius,” pesan PhD lulusan University of South Australia itu. (raf) Professor Michael Harrington sedang memaparkan materi tentang pembelajaran ‘biscriptal’. Mahasiswa sedang bertanya tentang peran ilmu linguistik dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas. Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris foto bersama dengan Professor Michael Harrington di akhir seminar.
Fardini Sabilah: Antara Anak-anak, Bahasa Inggris dan Kompetensi Interkultural

ELED News – Mencintai anak-anak adalah awal dari perjuangannya mengawal mengembangkan pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak di Indonesia. Bagi Fardini Sabilah, dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, apa yang telah ia lakukan adalah panggilan hati. Ia tidak pernah lelah keluar masuk sekolah-sekolah SD demi melatih guru bahasa Inggris SD dan berinteraksi dengan dengan siswanya. Hingga suatu hari ia yakin bahwa harus ada integrasi budaya dalam pembelajaran bahasa Inggris di SD. Didahului dengan beberapa penelitian tentang intercultural awareness, ia mantap memilih tema ini untuk disertasinya. Buah manis perjuangannya selama menempuh pendidikan doktorpun tiba. Bertempat di lantai 4 Gedung Purbatjaraka Ruang Sidang Soekarno, Jumat (23/3) wanita berparas ayu ini dengan yakin menjawab semua pertanyaan promotor dan penguji dengan sempurna. Ia pertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor dalam bidang Linguistik dengan judul “Kompetensi Interkultural Pembelajaran Bahasa Inggris Siswa Sekolah Dasar.” Fardini akhirnya dikukuhkan sebagai Doktor ke 39 Fakultas Ilmu Budaya dan Doktor ke 132 Program Studi Doktor Ilmu Linguistik dari Universitas Udayana Denpasar Bali. Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, MA, selaku promotor, dalam pidatonya menyatakan bahwa disertasi Fardini sederhana tapi menukik. “Belajar bahasa asing berarti belajar budaya bahasa tersebut, bukan saja mengajarkan bentuk kebahasaan, tapi juga makna melalui pendekatan pragmatik atau communicative approach,” tandasnya. Sementara itu, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM mengaku bangga atas keberhasilan Fardini. “Kelak kompetensi interkultural ini harus terintegrasi tidak hanya pada pembelajaran bahasa Inggris, tapi pada semua pembelajaran di semua tingkat, terutama SD,” tegas anggota konsorsium serifikasi guru kemdikbud ini. Ke depan, Fardini mantap untuk mensosialisasikan hasil disertasinya ini. Ia berharap, paling tidak, Pedoman Desain Perencanaan Pembelajaran Kompetensi Interkultural Bahasa Inggris Sekolah Dasar tersebut segera berimbas ke banyak SD di Malang Raya. (rin/ed_raf) Fardini Sabilah saat menerima piagam kelulusan dari dosen promotornya. Fardini Sabilah saat mempresentasikan hasil disertasinya dihadapan para penguji.
Inginkan Mahasiswa Produktif Menulis, ESA Progresio Adakan Seminar Writerpreneur

ELED News – Menulis identik sebagai sebuah pekerjaan yang berat bagi sebagian orang, namun jika ditekuni, menulis merupakan cara untuk menginspirasi orang lain dan bahkan tak jarang justru menjadi ladang penghasilan. Perhatian inilah yang dibidik oleh HMJ Pendidikan Bahasa Inggris, ESA Progresio dengan mengadakan seminar writerpreneur (20/3) di Aula Teknik GKB III UMM. Dari beberapa rangkaian acara, materi blogging menjadi daya tarik peserta. “Alhamdulillah, saat ini saya bisa menghidupi diri sendiri dan dua saudara saya di Malang, bisa membiayai kuliah sendiri. Selain itu, saya juga telah mengumrahkan ibunda ke tanah suci. Beberapa waktu lalu, alhamdulillah saya juga bisa membeli motor CB 125 R dengan biaya sendiri,” ungkap Flady Nasrullah, mahasiswa semester empat Jurusan Manajemen UMM sebagai pemateri. Blogger yang aktif menulis sejak 2014 itu memberikan beberapa tips blogging, mulai dari mendaftar blog gratisan seperti blogspot dan wordpress, cara menulis konten yang berkualitas, cara search engine optimation (SEO) on page dan SEO off page, serta cara mendaftar pada Google Adsense. Selain menghasilkan uang melalui blogging, peserta seminar juga dibekali dengan cara mendapatkan penghargaan melalui tulisan artikel di media cetak. “Mahasiswa UMM sangat beruntung karena didukung penuh oleh universitas agar menulis artikel di koran regional dan nasional dengan memperoleh sejumlah insentif. Jumlah itu bisa jadi tak seberapa, namun itulah bentuk dorongan UMM kepada mahasiswanya untuk aktif menulis,” papar Rafika Rabba Farah, pemateri cara menulis opini di media cetak pada acara tersebut. Seminar itu menjadi momen berharga karena juga menghadirkan editor Malang Post, Abdul Halim. Halim, panggilan akrabnya, meyakinkan peserta bahwa setiap mahasiswa memiliki ide untuk dituangkan dalam tulisan. Selain itu, Halim juga memberikan tips agar tulisan bisa dimuat di sebuah media cetak yaitu penulis perlu mempelajari visi misi media. “Sampai berdarah darah pun, jika Anda mengirim tulisan ke redaktur yang tidak sesuai dengan visi misi koran, tulisan Anda tidak akan terbit,” jelas Halim, editor yang juga menjadi pengampu mata kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP UMM itu. Bayu Hendro Wicaksono, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, menginginkan bahwa mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris bisa mengeksplorasi minat dan bakatnya melalui tulisan. “Ada banyak film dan novel yang terkenal di luar sana adalah karya anak bangsa. Sehingga, sebenarnya, kita ini punya potensi. Sekarang tinggal bagaimana kita memaksimalkan potensi itu,” tutur Bayu kepada 75 peserta seminar. Bayu mengapresiasi acara tersebut dan mendorong diadakannya kegiatan-kegiatan mahasiswa semisal yang dapat melejitkan potensi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. (raf) Abdul Halim memaparkan materi menulis berita dihadapan para peserta seminar. Flady Nasrullah berkisah tentang suksesnya mendapatkan sejumlah dollar per bulan dari hobi menulisnya. Rafika Rabba Farah menjelaskan bagaimana menulis opini agar dimuat di koran regional dan nasional.
Research and Development, Inovasi Penulisan Skripsi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM

ELED News – Berorientasi pada pengembangan produk ajar, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM memfasilitasi mahasiswa melakukan penelitian pengembangan atau yang lebih dikenal sebagai metode R&D (Research and Development). Salah satunya, atas pertimbangan tersebut, Prodi melakukan revisi Panduan Penulisan Skripsi pada Selasa (13/3) bertempat di ruang sidang FKIP. Penelitian pengembangan merupakan salah satu metode yang digunakan dalam penelitian pendidikan guna mengembangkan produk ajar berupa media atau bahan ajar. Melalui metode ini, Prodi berharap bahwa skripsi yang selama ini terkesan teoritis dan statis sekadar tumpukan dokumen dapat berubah menjadi lebih praktis, berorientasi produk. Laela Hikmah Nurbatra, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, yang telah membimbing mahasiswa menggunakan metode ini bersikap positif bahwa R&D justru akan membuat mahasiswa menjadi kreatif. “Saya amati bahwa mahasiswa yang menggunakan metode ini lebih nyata dalam mengaplikasikan teorinya, sehingga hasil skripsi menjadi konkret memberi sumbangsih pada dunia pendidikan atau pengembangan pembelajaran bahasa Inggris pada khususnya,” papar dosen yang memiliki keahlian di bidang Kepemimpinan Pendidikan itu. Sebelum mencapai titik kesepakatan pada inisiasi metode R&D ini, dosen di lingkungan Prodi telah mendiskusikan terkait kemampuan mahasiswa, apakah mahasiswa di level sarjana akan mampu menyelesaikan metode penelitian tersebut dengan baik dan tepat waktu. Mempertimbangkan asas manfaat yang lebih banyak pada metode ini, akhirnya Prodi menyetujui bahwa metode ini bisa mulai digunakan atau setidaknya dikenalkan pada mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMM. Selain berfokus pada pembahasan penelitian bidang pendidikan, Prodi juga merevisi skema penulisan skripsi di bidang linguistik dan sastra, yang selama ini telah menjadi tiga ciri utama penulisan skripsi di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. (raf)
Back to Campus, Success Story Olivia Monika ber-EYL

ELED News – Ada yang berbeda pagi itu, kamis (1/3) di kelas English for Young Learners (EYL) yang diikuti oleh 49 mahasiswa program studi (prodi) pendidikan bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang sebagian besar perempuan itu. Kelas yang pagi itu biasanya sepi, kali ini dimulai dengan gerak dan lagu opening classroom password berbahasa Inggris yang dipimpin langsung oleh Olivia Monica, sang bintang tamu. Bertempat di Ruang Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM, pagi itu Olive, sapaan akrabnya sengaja diundang untuk berbagi pengalaman mengajar EYL. Rasa gembira tampak dari wajah Olive pagi itu, karena keberadaannya di kelas itu mengingatkannya akan nostalgia mengikuti kelas EYL lima tahun lalu. Mahasiswa pun menyimak dengan seksama cerita yang disampaikan oleh Olive, yang sambil sesekali menunjukkan foto-foto kegiatan mengajarnya di First Step, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris untuk anak. “Mengajar bahasa Inggris anak-anak usia dini itu sangat menantang, kita harus sabar,” ujarnya. Mahasiswa semester akhir Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang (UM) ini, selalu mendapatkan kelas untuk pre- school. Hal ini karena ia telah mendapatkan pengalaman sebagai guru bahasa Inggris anak pada saat ia harus praktik mengajar pada mata kuliah EYL di UMM. “Pembelajar usia dini itu sangat unik, mereka kadangkala seperti tidak memperhatikan apa yang kita ajarkan, tapi pada saat yang tidak kita sangka mereka tiba-tiba menggunakan bahasa Inggris yang pernah diajarkan. Pengalaman menggunakan bahasa lebih penting daripada harus menyelesaikan apa yang tertera dalam lesson plan,” paparnya. Beberapa mahasiswa memanfaatkan kesempatan ini dengan menanyakan beberapa pertanyaan tentang EYL. Misalnya, ada yang menanyakan bagaimana apabila ada siswa yang menangis, bolehkah guru memberinya permen. Dengan tegas ia sampaikan bahwa di situlah seninya mengajar EYL, bahasa Inggris saja tidak cukup, tapi kemampuan memahami kondisi psikologis anak sangat penting. Dengan membiarkannya tetap menangis sambil diajak berdialog sampai anak menjadi nyaman adalah jalan keluarnya, daripad memberinya sebuah permen. Soal prosentase penggunaan bahasa Inggris untuk siswa imut-imutnya, Olive mantap menegaskan bahwa semakin besar prosentase bahasa Inggris semakin baik bagi pembiasaan berbahasa. “Dulu ketika dijelaskan dosen EYL bahwa kita harus berani menantang anak-anak agar berani menggunakan bahasa Inggris, saya sempat ragu. Jujur karena saya belum banyak praktek waktu itu. Tapi sekarang saya sudah buktikan. Jadi menjelaskan kosakata bisa dilakukan dengan bahasa Inggris sederhana dan gerakan,” jelasnya. Olive berharap EYL ini terus jadi penciri dari prodi pendidikan bahasa Inggris UMM karena banyak kampus yang menawarkan mata kuliah pilihan tapi tidak se all out di UMM. Pengampu mata kuliah EYL, Rina Wahyu Setyaningrum menegaskan bahwa, “UMM menyiapkan mahasiswa mulai dari teori pembelajaran EYL sampai praktek penyelenggaraan kelas EYL. Ketika lulus mata kuliah EYL 1 dan EYL 2, siswa sudah siap terjun mengajar maupun membuka program EYL secara mandiri.” Ditutup dengan mengajak seluruh mahasiswa menyanyi lagu bertajuk Thank You, Olive menyudahi sharing sessionnya pagi itu.(rin)