Silaturahim Virtual Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Pada Idul Fitri 1441 H

ELED News – Physical distancing di tengah pandemi global COVID-19 tak menghalangi seluruh jajaran pendidik dan tenaga pendidikan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM untuk melakukan silaturahim Idul Fitri 1441 H. Acara silaturahim kali ini berlangsung melalui platform Zoom pada 2 Syawal 1441 H (25/5). Diawali dengan pengantar oleh Drs. Soeparto, M.Pd. kegiatan ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi antar pengajar di Prodi agar selalu menjaga kekompakan dan hubungan baik terus terjalin. Dengan demikian, semua personil Prodi bisa dengan mudah membawa kemajuan bagi Prodi dan semakin produktif dengan karya-karyanya. “Kami berharap bahwa kita semua bisa menjaga kekompakan tim sehingga Prodi kita menjadi the best and the first. Jika menjadi the best itu sulit, setidaknya, kita bisa menjadi the first dengan kekompakan itu tadi,” ungkap Dosen yang pernah menjabat sebagai stafsus Mendikbud era Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP itu. Selanjutnya, tausiah disampaikan oleh Dr. Masduki, M.Pd. tentang pentingnya memaafkan. Mengutip Quran Surat Ali Imran 134-135, Direktur Lembaga Bahasa UMM, itu menekankan baiknya seseorang yang menahan kemarahan dengan kesabaran dan memaafkan orang yang bersalah terhadapnya. “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan tidak ada yang mengampuni dosa melainkan Allah subhaanahu wa ta’ala,” kutipnya. Acara silaturahim yang dipandu oleh Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris, Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D pun diakhiri dengan momen saling memafkan antara satu pengajar ke yang lainnya. Kegiatan yang berlangsung selama satu jam ini pun disambut positif oleh semua pihak Prodi karena telah berhasil mengakrabkan satu sama lain meski tidak bisa saling bertemu secara langsung.raf
Mengejar Beasiswa Luar Negeri Tak Sesulit yang Dibayangkan

ELED News – Fasilitasi mahasiswa aktif di semester genap 2019/2020 kejar beasiswa Luar Negeri (LN), Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakults Keguruan dan Ilmu Pendidikan selenggarakan Ngabuburit Talk pada Rabu (6/5). Sharing session kali ini menghadirkan Yunita Rahmasari, alumnus Prodi yang sukses meraih beasiswa Australia Awards Indonesia (AAI) di University of Melbourne Australia. Melalui kanal Instagram live, sharing session diikuti oleh 90-115 penonton. Dalam pernyataannya, Tata, begitu pemateri biasa disapa, mengungkapkan bahwa beasiswa AAI tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang aktif diorganisasi saja seperti yang umumnya dipersyaratkan oleh beasiswa LN. AAI memfasilitasi mahasiswa yang memiliki hobi dan talenta di luar itu, seperti hobi memasak atau hobi lain. Kuncinya mahasiswa bisa menunjukkan konsistensi hobinya dan mengaitkannya dengan kebermanfaatannya bagi masyarakat. “Adek-adek tidak perlu khawatir jika tidak tergabung di dalam organisasi tertentu saat kuliah, saya pun saat kuliah tidak sama sekali tercatat sebagai anggota organisasi di kampus. Cukup Anda mengeksplor minat yang dimiliki dalam berkas yang Anda kirimkan dan yakinkan interviewer saat sesi wawancara apa kontribusi dari minat Anda,” papar Tata, perempuan yang dengan hobi nge-bentonya pernah mendapat hadiah trip ke Jepang itu. Selain itu, Tata menekankan bahwa dalam beasiswa AAI akan diberi pelatihan bahasa selama kurang lebih 3 sampai 9 bulan di Jakarta atau Bali. Jadi, calon penerima beasiswa tidak perlu khawatir tentang biaya persiapan bahasa yang notabene mahal, karena AAI akan memfasilitasi itu semua. Walau demikian, bekal kemampuan bahasa Inggris tetap harus dipersiapkan oleh calon pelamar beasiswa LN. Di akhir sesi acara yang dimoderatori oleh Erlyna Abidasari, M.A., M.Ed, penonton pun semakin antusias dengan memberikan komentar positif terhadap sharing session itu. Tiga penonton terpilih mendapatkan hadiah dari Prodi karena komentarnya yang positif dan menarik dalam live chat. raf
Ngabuburit Talk, Sharing Beasiswa Australia dengan Alumnus Sukses Yunita Rahmasari

ELED News – Mendapatkan beasiswa untuk studi Pascasarjana di luar negeri merupakan hal yang ingin diraih oleh banyakmahasiswa ketika lulus program sarjana nantinya. Dengan ini, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang memfasilitasi mahasiswa dengan ‘Ngabuburit Talk, Winning a Study abroad Scholarship’. Pemateri kunci pada sesi kali ini adalah Yunita Rahmasari, peraih beasiswa Australia Awards Indonesia (AAI) master’s in applied Linguistics University of Melbourne (UniMelb) Australia. Saat ini merupakan tahun kedua bagi Tata, begitu ia akrab disapa, melangsungkan studi di UniMelb. Tata merupakan alumnus Pendidikan Bahasa Inggris UMM angkatan 2005. Setelah lulus program sarjana, Tata, perempuan asal Kepanjen Malang ini merupakan salah satu pengajar di Language Center UMM. Selain prestasi akademis, Tata juga pernah memenangi perlombaan Bento dengan hadiah mengunjungi negeri Sakura, Jepang. Atas hobi memasaknya itu, Tata memiliki food blog dan food photography dengan akun @tatachan yang kini memiliki 12.2K followers. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang prestasi lain, pengalaman akademis dan non akademis dari alumnus sukses Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, mari kita saksikanacara sharing session kali. Dimoderatori oleh Erlyna Abidasari, M.A., M.Ed. sharing session akan dilakukan live melalui Instagram pada Rabu, 6 Mei 2020 pukul 15.00-16.00. raf
Respon Social Distancing, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM Lakukan Ujian Skripsi Online

ELED News – Wabah Covid-19 yang berdampak pada pembelajaran di Indonesia, direspon cepat oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Ujian skripsi berbasis dalam jaringan (daring) atau online pun dimanfaatkan dengan baik. Cahya Intan Syafinaz, salah satu mahasiswi yang melakukan ujian skripsi di rumah kos di Malang mengaku proses ujian skripsi online lebih fleksible. “Keuntungan dari ujian skripsi online adalah lebih fleksibel yang mana saya tidak perlu mencetak naskah skripsi terlalu banyak untuk disajikan kepada penguji, hanya cukup mengirimkannya dalam bentuk pdf melalui platform WA atau email para penguji, ini sangat paperless dan canggih. Di sisi lain, proses ini juga dapat mengurangi rasa grogi atau canggung karena tatap muka secara tidak langsung seperti video call pada umumnya,” ungkap Cahya mahasiswi asal Lamongan itu. Namun demikian, menjalani ujian online menurut Cahya juga harus dipersiapkan secara matang, terutama mengenai hal teknis. “Tantangannya adalah menjaga jaringan atau koneksi internet supaya tetap stabil ditunjang juga dengan device (laptop/hp) yang memiliki performa bagus. Selain itu, saya juga perlu mempersiapkan dan memastikan suasana sekeliling kamar kondusif tidak ada suara bising yang menganggu,” ungkap mahasiswi yang dibimbing oleh Dra. Dwi Poedjiastutie, M.A., Ph.D dan Adityo, M.A itu. Lain halnya dengan Milda, mahasiswi asal Seruyan Kalimantan Tengah. Di tengah pandemi corona, Milda yang saat proses ujian skripsi sedang berada di kampung halamannya itu merasa banyak terbantu. “Ujian online ketika sedang ada wabah seperti saat ini sangat menguntungkan semua pihak, ujian bisa di lakukan di rumah dan dapat dilakukan dengan baik,” ungkap mahasiswi yang memiliki judul penelitian “An analysis of Translating Idiom Strategies in The Adventures of Tom Sawyer by Mark Twain” itu. Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D selaku salah satu dewan penguji sekaligus Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris menyatakan bahwa proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 tetap harus berjalan dan platform online sebagaimana telah dipakai sebelum pandemi layak untuk dioptimalkan baik dalam pembelajaran online regular maupun ujian akhir mahasiswa. “Saya turut bangga bahwa mahasiswa dan pengajar kita dapat menggunakan platform online ini dengan baik walaupun dalam kondisi yang serba terbatas seperti saat ini. Apa yang kita lakukan ini adalah sebagai upaya memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar,” tandas Bayu. raf
Raymon Rahmadhani, Sang Pegiat Integrasi Teknologi Pada Pembelajaran di Kalimantan Selatan

ELED News – Catatan Kecil tentang Seorang Kawan Maraknya pembelajaran online di tengah wabah covid 19 ini, mengingatkan saya pada sosok kawan lama yang saya temui pada gelaran Indonesia Technology-Enhanched Language Learning (iTELL) Conference 2020. Konferensi yang diadakan di sebuah hotel bersejarah yang berseberangan dengan Istana Bogor pada tanggal 22-23 Februari tersebut mengumpulkan para pegiat teknologi dalam pembelajaran bahasa. Raymon Rahmadhani, dialah kawan yang saya maksud, yang pada gelaran tersebut diundang khusus untuk membagi pengalaman dari tanah Borneo. Bercerita apapun dengan Ray, panggilan akrab alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan tahun 2002 ini, selalu membuat lupa waktu. Banyak cerita apa saja yang mengalir bahkan kadang random. Talenta jurnalistik yang ia salurkan saat mengelola Progresio Magazine, majalah yang diterbitkan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris, masih kental terasa. Sedikit berbeda dengan pertemuan kami sebelumnya yang selalu berbau nostalgia saat berjibaku dengan organisasi intra dan cerita menjadi instruktur di Language Center di kampus putih – UMM – kali ini cerita mengalir deras tentang romantika menjadi pendidik di daerah. Mengawali karir sebagai guru Sekolah Dasar (SD) Negeri di Banjarbaru – Kalimantan Selatan, Ray seringkali banyak berdiskusi dengan saya tentang pembelajaran English for Young Learners (EYL). Dibantu oleh sang istri Annisa Ramadhani yang juga alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun yang sama, ia mencoba mewujudkan pembelajaran Bahasa Inggris yang sesuai dengan tahapan perkembangan holistik siswa SD. Kebetulan Annisa merupakan salah satu generasi awal yang mengambil mata kuliah pilihan EYL. Berbekal ilmu yang cukup, ia menjadi penggerak bahkan trendsetter dalam pembelajaran EYL di daerahnya. Sekembalinya menempuh S2 dalam bidang Linguistik Terapan dari Universitas Negeri di Yogyakarta, ia mendapatkan promosi jabatan sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota yang sama. Tantangan baru harus dia terima dengan penuh semangat karena ia meyakini bahwa di manapun tempatnya, ia siap mengaplikasikan ilmunya. “Alhamdulillah selama berkuliah di UMM saya mendapat bekal berharga untuk mengajar. Para dosen mencerahkan saya bahwa mengajar itu tidak hanya bersumber dari textbook, tetapi dapat menggunakan beragam media bersumber dari mana saja. Selain itu kita juga diajarkan untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan,” kenang Ray. Berbagai kegiatan dalam rangka menempa diri dan memberikan ide-ide segar pembelajaran bahasa Inggris telah dilakoninya. Salah satunya menjadi instruktur nasional Guru Pembelajar oleh Kementrian Pendidikan Republik Indonesia, di mana dia diamanahi untuk menjadi seorang yang dapat menjadi penggerak kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan khususnya guru di daerah. Belum lama ini, ia berkolaborasi dengan beberapa guru se daerah untuk menuangkan pengalamannya menjadi guru di Kalimantan Selatan dalam buku yang bertajuk Rangkaian Cerita dari Ruang-Ruang Kelas di Tanah Borneo. Buku setebal 305 halaman itu tersusun dengan pendampingan dari iTELL. “Saya beruntung punya mentor dari iTELL yang luar biasa, sehingga segala proses penyusunan buku ini saya anggap saja sebagai pembelajaran,” tandas putra kelahiran Barabai, 35 tahun lalu ini. Selama gelaran konferensi yang berlangsung selama dua hari tersebut, saya sungguh terkesima ketika banyak orang yang menyalaminya dan berbincang dengannya dalam konferensi dua tahunan tentang Integrasi teknologi dalam pembelajatan tersebut. Sudah setenar itukah Ray? Saya pun berniat mengikuti sesi presentasinya. Dan, ternyata tidak salah lagi, kawan karib saya ini memang inspiratif. Tanpa lelah mempraktikkan integrasi teknologi di dalam kelas-kelasnya di SMP Negeri 3 Banjarbaru yang saya yakin tidak semua guru mau melakukannya. Semua mata tertuju pada paparan yang ia sampaikan, ditambah dengan dipamerkannya buku yang baru saja ia tuliskan. Di sana ia memaparkan bahwa pembelajaran haruslah menarik, tidak hanya sekedar isinya saja tetapi juga kemasan dari pembelajaran tersebut haruslah dibuat semenarik mungkin bagi peserta didik. Di samping itu, ia juga menyampaikan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan paling tidak beranjak dari dua hal, yakni mengajak peserta didik untuk belajar berfikir dan mengasah keterampilan abad 21 (critical thinking, creativity, collaboration, communication) mereka. “Menggerakkan hati saya dan teman-teman seperjuangan di daerah memang tidak mudah. Banyak sekali kendala yang saya temui, pun dalam penulisan buku ini. Padahal, isi buku ini dapat menjadi pelajaran betapa dengan berbagai masalah di kelas-kelas yang harus kami selesaikan. Berbeda dengan guru-guru di luar sana yang dekat dengan berbagai fasilitas tapi seringkali tidak bergerak lebih cepat dalam memberikan pengalaman belajar pada siswa,” tutur ayah dari Malik dan ‘Ilma ini. Masih berlanjut, saat ini Ray masih berkhidmat pada integrasi teknologi dalam pembelajaran bahasa Inggris, terutama pada saat Belajar dari Rumah dicanangkan akibat meluasnya wabah Covid 19. Ia kombinasikan beberapa platforms seperti Google Classroom, Zoom, dan media sosial lain seperti WhatsApp dan Instagram. Ia mengajak siswa untuk mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan pembelajaran, sehingga siswa sangat antusias. Ia ingin anak-anak daerah punya karya yang dapat dilihat oleh khalayak. Dan benar, ketika klik #SFHSMP3BJB saya bangga dengan hasil belajar siswanya. Masih ada kekurangan di sana-sini tapi itu sangat wajar. Saya yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh Ray bukan hal yang mudah, barangkali itu juga yang memotivasi siswanya dalam berproses di kelas-kelasnya. Saya pun setuju bahwa buku yang telah ia publikasikan bersama para guru dari tanah Borneo tersebut adalah perwujudan langkah-langkah panjang dan penuh perjuangan. Terus berkarya kawan, saya angkat topi.(rin/ed_raf)
Fitria Anis Kurly, Alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, Raih Gelar Master dari University of Bristol, UK

ELED News – Melanjutkan Pendidikan tinggi merupakan cita-cita dari banyak mahasiswa, apalagi belajar di luar negeri. Begitulah yang menjadi pemicu Fitria Anis Kurly, mahasiswa angkatan 2010, untuk melanjutkan studi di University of Bristol United Kingdom. Berbekal tekad kuat dan ketekunan, Kurly, begitu ia biasa disapa, berhasil mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Pada Februari 2020, Kurly berhasil menggondol gelar M.Sc, pada program Master of Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL). Seperti apa kisah Fitri, berikut ulasannya. Pertama kali keinginan untuk berkuliah di luar negeri muncul sejak kuliah di UMM dan berkesempatan mengikuti beberapa kelas yang diampu dosen lulusan luar negeri. Dosen-dosen yang memiliki pengalaman dan pengetahuan luar biasa tersebut memacu semangat Fitri untuk mengikuti jejaknya. Kurly teringat betapa hebatnya mendengar cerita para dosen di kelas tentang kuliah di negara asing. Selain pengalaman, pengetahuan, dan networking yang luas, Kurly juga ingin merasakan dan melihat secara langung bagaimana masyarakat di negara maju mengatur sistem kehidupan mereka, khususnya sistem pendidikan. Selanjutnya, hal utama yang memotivasi Kurly belajar ke luar negeri terkait dengan pegalamannya mengajar di daerah terpencil di Kalimantan Timur. Suatu saat nanti saat kembali mengajar di daerah terpencil dimana saja, Kurly ingin menceritakan bahwa meraih pendidikan setinggi-tingginya adalah sebuah kemungkinan bagi siapa saja yang mau berusaha, bekerja keras tanpa memandang asal, warna kulit, status sosial apalagi soal keterbatasan finansial. Soal bagaimana pedidikan di UK, Kurly mengaku senang dengan cara belajarnya. Secara umum, pembelajaran di UK agaknya berbeda dengan di Indonesia. Misalnya saja, hampir semua level master di UK hanya diampu dalam satu tahun lamanya, maka beban mata kuliah dan tugas pun menjadi sangat padat. “Meskipun kuliah hanya tiga hari dalam satu pekan, hari-hari mahasiswa di UK bisa dihabiskan lebih banyak di perpustakaan karena untuk masuk satu kelas kita selalu mendapat bacaan wajib yang harus dipahami dan dipersiapan sebelum masuk kelas. Begitupun dengan tugas yang membutuhkan banyak sumber bacaan, tentu dengan tuntutan kualitas tulisan yang lebih menantang. Kalau mau liburan, kita harus pintar-pintar atur waktu, atau terpaksa membawa dan mengerjakan tugas di perjalanan,” ujar perempuan yang saat ini tinggal sementara di Polandia itu. Hal apa saja yang menjadi bekal Kurly dari belajar di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM terkait studi lanjutnya, ia mengaku bahwa ia masih mendapatkan bimbingan dari dosen di Prodinya meski telah lulus sarjana dengan menjaga komunikasi. “Sebelum saya berangkat ke UK, saya ke kantor Prodi untuk berkonsultasi tentang jurusan apa yang lebih tepat untuk saya pilih hingga apa yang harus saya persiapkan menjelang keberangkatan,” terang Kurly, aktivis salah satu organisasi kepemudaan itu. (raf)
Bekali Kemampuan Menulis di Media Massa, HMJ ESA Progresio Adakan Seminar Jurnalistik

ELED News – Kemampuan menulis merupakan tingkat tertinggi dalam kemampuan berbahasa seseorang. Untuk itu, menulis dan mampu tembus di media massa lokal maupun nasional merupakan hal utama bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang. Seminar jurnalistik tersebut diselenggarakan di Aula Teknik GKB III (6/3) dengan mengundang Abdul Halim Redaktur Malang Post, Flady Nasrullah seorang Blogger, dan Rafika Rabba Farah penulis dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM. Memulai seminar, Rafika Rabba Farah, M.Ed., yang didapuk sebagai pemateri menjelaskan tentang ‘news value’ yakni bagaimana sebuah tulisan atau berita itu memiliki nilai. Di antaranya yakni ‘magnitude’, sebuah tulisan memiliki nilai berita ketika ia memiliki gaung yang kuat, sehingga ia berdampak pada pembaca ‘impact’. Selain itu, tulisan yang akan dimuat di media massa adalah yang ‘timeliness’ atau aktual dan juga mengandung unsur ‘proximity’ yaitu mempertimbangkan kedekatan dengan target pembaca baik secara geografis atau emosional. Selanjutnya, Rafika, dosen pengampu mata kuliah Teaching English as Foreign Language (TEFL) itu memberikan trik cara membuat paragraph pembuka dalam tulisan opini. “Lead (paragraph pembuka) sebaiknya memiliki ‘peg’ atau cantolan peristiwa. ‘Peg’ bisa ditulis dengan cara mengutip penyataan tokoh terhadap peristiwa yang sedang terjadi atau berasal dari fenomena yang tengah berkembang,” pungkas mantan Redaktur Pelaksana Koran Kampus Bestari 2012 itu. Di akhir sesi, Rafika, menyimpulkan bahwa pada dasarnya teknis penulisan media massa yang berbahasa Indonesia sama dengan struktur menulis di mata kuliah Essay Writing, hanya saja gaya selingkung dan redaksional tulisan perlu disesuaikan dengan media massa yang dituju. (raf)
Yuyud Tri Guntoro, Mahasiwa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM, Wakili Indonesia dalam International Student Week 2019 di Pakistan

ELED News – International Student Week 2019 merupakan konferensi dunia yang mendiskusikan tentang kultur, tradisi, etnis, agama, dan berbagai perspektif dari berbagai negara. Memilih pemuda-pemuda dari seluruh dunia, kegiatan ini mengangkat tema ‘Diversity beyond Perception’. Adapun tujuan utama dari penyelenggaraan konferensi ini adalah penerimaan terhadap perbedaan. Dalam ajang ini, Yuyud Tri Guntoro, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang berhasil terpilih sebagai perwakilan Indonesia (27/10-3/11). Yuyud, mahasiswa asal Tulungagung ini bangga menjadi delegasi dalam konferensi tersebut. Pasalnya, peserta yang terpilih tidak hanya mahasiswa Sarjana saja namun juga mahasiswa Pascasarja. Dengan demikian, ia merasa kaya dengan wawasan dan pengalaman. “Kegiatan ini sungguh luar biasa karena saya mendapatkan banyak ilmu dari sesama delegasi dari berbagai negara. Saya sekarang paham bagaimana sosial media berkembang di beberapa negara dan apa saja platform yang sering digunakan,” pungkas Yuyud mahasiswa angkatan 2018 itu. Selain itu, kegiatan ini juga mengasah kemampuan bahasa Inggris dan kepemimpinan para delegasi, dan tentunya tentang pendidikan di Pakistan. Dalam kesempatan itu, Yuyud dan perwakilan Indonesia mengangkat topik Optimalisasi Sosial Media di Bidang Kewirausahaan. “Saya dan anggota lainnya dibekali wawasan dalam bersosial media dan berbicara tentang pemanfaatan dan pengaruh sosial media di Indonesia dalam bidang Kewirausahaan,” ungkap Yuyud, duta wisata Kabupaten Tulungagung 2016 itu. Setelah kegiatan tersebut, Yuyud ingin menebar manfaat bagi lingkungan sekitarnya. “Setelah ini, saya berencana dapat menggunakan platform jejaring sosial dan mengoptimalkan untuk berwirausaha serta mampu menginspirasi mahasiswa lain supaya menggunakan sosial media dengan baik,” ungkap Yuyud yag juga anggota Forum Beasiswa Unggulan UMM itu. Santi Prastiyowati, M.Pd., Sekretaris Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM, merasa senang dengan prestasi mahasiswanya. “Mahasiswa sekarang cenderung lebih mandiri terutama dalam hal akses informasi beasiswa dan kegiatan internasional, karena memang itu dunia mereka. Potensi seperti ini perlu diwadahi, sehingga bisa bermanfaat ke depannya bagi Prodi,” papar dosen alumnus Universitas Negeri Malang itu. (raf)
Dua Wisudawati Terbaik Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM Lulus 3,5 Tahun

ELED News – Lulus tepat waktu menjadi target utama Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang dalam pelayanan prima terhadap mahasiswanya. Berliana Febrianti Safitri dan Sary Eka Wahyuni, mahasiswi angkatan 2016 berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun dan dikukuhkan sebagai wisudawati terbaik di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dengan Raihan IPK 3.92 saat Yudisium Periode I 2020 FKIP UMM (26/2). Mengangkat judul ‘Identifying English Language Education Department Students’ Reading Preference for Comprehension Skill’, Berliana, di bawah bimbingan Rahmawati Khadijah Maro, M.PEd. dan Rosalin I. Gusdian, M.A, mendapati bahwa novel merupakan bacaan yang disukai responden penelitiannya. “Temuan ini memiliki simpulan bahwa ‘extensive reading’ perlu menjadi materi atau aktifitas tambahan bagi pembelajaran ‘reading’ di kelas,” papar perempuan yang menjadikan Surah Insyirah sebagai pegangan hidupnya itu. Berliana, perempuan asal Sumbawa Besar NTB, bangga menjadi salah satu mahasiswa di Prodi Bahasa Inggris FKIP UMM, pasalnya fasilitas pembelajaran dan lingkungan yang nyaman membuatnya terbantu banyak hal dalam belajar. Selain menunjukkan performa akademik yang nyaris sempurna, Berliana juga aktif di kegiatan unit mahasiswa, salah satunya menjadi fungsionaris HMJ Progresio dan terlibat dalam kepanitian di BEM FKIP. “Awalnya, saya tahu UMM dari teman saya yang sekarang menjadi kakak tingkat saya, sungguh beruntung bisa belajar di sini,” tandas anak pertama dari dua bersaudara itu. Lain halnya dengan pengalaman Sary Eka Wahyuni, wisudawati asal Tulungagung. Semasa kuliah, Sary kerap menjuarai lomba bela diri di tingkat regional dan nasional. Diantaranya, Juara 1 Seni Regu Dewasa Putri pada Kejuaraan Nasional PSHT Raja Brawijaya II, Juara 1 pada Kejuaraan Pencak Silat antar Pelajar SMP, SMA sederajat dan Dewasa Se-Jawa Persaudaraan Setia Hati Terate, Juara 1 Seni Beregu Dewasa Putri pada APPLE CUP (Kejuaraan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate se Cabang Batu Tahun 2018), dan Juara 1 Kelas A Dewasa Putri pada APPLE CUP (Kejuaraan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate se Cabang Batu Tahun 2018). Menjuarai berbagai turnamen tak lantas membuat Sary, asisten laboratorium Infokom UMM, itu lupa dengan prestasi akademiknya. Dibawah bimbingan Nina Inayati, M.Ed. dan Rosalin I. Gusdian, M.A, Sary meneliti tentang ‘The Problems Faced by English Language Education Department Students in Generating Ideas in Writing Thesis Proposal’. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Sary bercita-cita ingin melanjutkan studi. “Ke depan, saya ingin mengajar dengan mempraktikkan ilmu yang selama ini didapat sambil mempersiapkan diri melamar beasiswa untuk studi lanjut,” pungkas Sary, perempuan yang hobi baca buku itu. Berkenaan dengan ini, Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris, Bayu Hendro Wicaksono, Ph.D mengaku bangga denga capaian akademik dan non-akademik mahasiswanya di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM. “Alhamdulillah apa yang kami kerjakan selama ini yaitu dengan menyusun kembali dan mengintegrasikan beberapa mata kuliah sekaligus jumlah SKS menunjukkan hasil. Kini mahasiswa di Prodi kami bisa lulus cepat dengan 3,5 tahun saja. Sekali lagi, selamat untuk 52 wisudawan dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris semoga bisa mengabdikan ilmu yang dipelajari selama kuliah,” pungkas doktor lulusan University of South Australia itu. (raf)
Berhasil Integrasikan Konsep Pembelajaran Bahasa Inggris dan Ke-Islaman, Tim Riset Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM Diundang ATV Batu

ELED News – Sebagai Prodi yang berada di bawah naungan universitas Islam, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, memiliki salah satu misi yaitu mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islaman dalam materi pembelajaran. Dimotori oleh Rafika Rabba Farah, M.Ed., media yang diberi nama Trivia Cards English for Islamic Studies berhasil dikembangkan. Galuh, Presenter ATV, menanyakan bagaimana metode pengembangan media tersebut. Media Trivia Cards ini merupakan hasil penelitian dengan dana Blockgrant FKIP 2019. Metode yang digunakan dalam riset ini yaitu Research and Development milik Dick, Carey & Carey (2015). Adapun prosedur pengembangan media tersebut yaitu need analysis, initial product design, expert validation, trial phase, and final product revision. Setelah dilakukan analisis kebutuhan, media dikembangan yang kemudian divalidasi oleh dua ahli yaitu ahli bahasa dan media dari Prodi Bahasa Inggris UMM dan juga ahli konten yaitu dosen dari Fakultas Agama Islam UMM. Setelah itu, produk media diuji cobakan kepada mahasiswa guna melihat respon. Didapati bahwa respon mahasiswa terhadap media ini positif dengan prosentase setuju 50% dan sangat setuju 45%, sedangkan 5% tidak setuju atau sebanyak 1 responden. Selama evaluasi penelitian Blockgrant 2019, penelitian ini mendapat predikat terbaik dalam skema Penelitian Berbasis Produk (PBP) dengan indikator pencapaian berupa pemerolehan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham, artikel terbit di Jurnal Edulite Unissula terakreditasi Sinta 2, dan juga kelayakan prototype produk. Di akhir sesi interview, Galuh Presenter ATV ingin tahu bagaimana proyeksi pengembangan media ini ke depan. “Selanjutnya, hasil penelitian ini akan dikembangkan lagi. Saya dan tim berusaha media Trivia Cards ini bisa diproduksi secara massal sehingga bisa dinikmati oleh publik dan juga kami memproyeksikan konsep integrasi Bahasa Inggris dengan ke-Islaman bisa dikembangkan menjadi media atau sumber belajar lain,” pungkas Rafika. (raf)